Oleh : Akhmad Sururi ( Ketua PAC HIMASAL Kec Wanasari )
Ada sebuah tradisi yang tidak selalu tertulis dalam buku, tetapi hidup kuat dalam diri para santri: khidmat kepada guru. Di pesantren, ilmu tidak hanya diwariskan melalui kitab dan pengajian, tetapi juga melalui keteladanan, adab, tawadhu, dan penghormatan kepada para masyayekh.

Dalam tradisi itulah, keberadaan alumni pesantren menemukan maknanya. Alumni bukan sekadar mereka yang pernah mondok, melainkan bagian dari mata rantai perjuangan yang membawa nilai-nilai pesantren ke tengah masyarakat.
Bagi keluarga besar HIMASAL Brebes, napas tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan organisasi. Terlebih bagi alumni yang pernah menimba ilmu di lingkungan Pondok Pesantren Lirboyo. Jejak para masyayekh tidak berhenti ketika santri meninggalkan pesantren. Ia semestinya terus hidup dalam sikap, pemikiran, pengabdian, dan perilaku sosial para alumninya.
Khidmat sebagai Jalan Pengabdian
Khidmat kepada masyayekh bukan sekadar menghadiri majelis, sowan, atau mengenang masa-masa menjadi santri. Lebih jauh, khidmat adalah upaya menjaga amanah keilmuan dan meneruskan nilai-nilai yang telah diajarkan.
Santri diajarkan bahwa ilmu harus melahirkan manfaat. Karena itu, semakin jauh seseorang berjalan setelah meninggalkan pesantren, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk menghadirkan nilai-nilai pesantren dalam kehidupan.
HIMASAL Brebes dapat menjadi ruang bersama bagi alumni untuk menerjemahkan nilai tersebut. Organisasi alumni tidak cukup hanya menjadi tempat berkumpul, tetapi harus mampu menjadi wadah silaturahmi, penguatan tradisi keilmuan, kaderisasi, dan pengabdian kepada masyarakat.
Menjaga Tradisi, Membaca Zaman
Tantangan generasi muda hari ini berbeda dengan masa sebelumnya. Perubahan teknologi, media sosial, budaya populer, dan derasnya arus informasi membuat pendidikan karakter semakin penting.
Dalam situasi seperti ini, tradisi pesantren memiliki relevansi yang kuat. Adab kepada guru, tawadhu, kesederhanaan, kedisiplinan, kecintaan kepada ilmu, serta kepedulian terhadap masyarakat merupakan nilai yang tetap dibutuhkan di tengah perubahan zaman.
HIMASAL Brebes memiliki posisi strategis untuk menjadi jembatan antara tradisi dan modernitas. Alumni dapat mengambil nilai-nilai luhur pesantren tanpa kehilangan kemampuan membaca perubahan zaman. Tradisi tidak berarti berhenti pada masa lalu. Tradisi justru menjadi kekuatan untuk menghadapi masa depan ditengah arus modernisasi.
Dari Lirboyo untuk Brebes
Semangat khidmat kepada masyayekh selayaknya menemukan bentuk nyata di daerah masing-masing. Brebes membutuhkan generasi yang memiliki kedalaman spiritual, keluasan wawasan, kepedulian sosial, dan keteguhan karakter. Para alumni pesantren memiliki modal besar untuk mengambil peran tersebut.
Melalui HIMASAL, berbagai potensi alumni dapat disatukan. Ada yang bergerak di bidang pendidikan, dakwah, sosial, ekonomi, pemerintahan, politik, maupun pemberdayaan masyarakat. Semua bidang tersebut dapat menjadi ruang pengabdian apabila dijalankan dengan nilai-nilai pesantren.
Dengan demikian, nama besar pesantren tidak hanya disebut dalam forum-forum silaturahmi, tetapi tercermin dalam kontribusi nyata para alumninya. Hal ini sangat penting, karena sesungguhnya prilaku alumni Pesantren membawa nama Pesantren dalam kehidupan bermasyarakat.
Masyayekh sebagai Sumber Keteladanan
Menghidupkan kembali semangat masyayekh bukan berarti menjadikan masa lalu sebagai romantisme. Justru yang lebih penting adalah mengambil uswah dari perjuangan mereka.
Kesederhanaan, ketekunan mengajar, istiqamah dalam ibadah, perhatian kepada santri, dan pengabdian kepada umat merupakan warisan moral yang harus terus dijaga. Nilai-nilai tersebut menjadi komitmen yang harus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
HIMASAL Brebes dapat menjadikan nilai-nilai tersebut sebagai fondasi gerakan. Setiap kegiatan organisasi hendaknya memiliki orientasi manfaat. Setiap pertemuan menjadi ruang mempererat ukhuwah. Setiap gagasan diarahkan untuk kemaslahatan. Dan setiap alumni didorong untuk menjadi bagian dari solusi bagi persoalan masyarakat.
Khidmat yang Melampaui Generasi
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan alumni bukan semata-mata jabatan atau kedudukan yang diraih setelah keluar dari pesantren. Ukuran yang lebih mendasar adalah sejauh mana ilmu yang diperoleh mampu memberi manfaat.
Dari pesantren, seorang santri belajar membaca kitab. Setelah kembali ke masyarakat, ia harus mampu “membaca” kehidupan: membaca kebutuhan umat, membaca perubahan zaman, membaca persoalan sosial, sekaligus membaca dirinya sendiri agar tetap rendah hati. Sehingga kehadiran alumni di tengah tengah masyarakat dapat memberikan pencerahan dari sisi agama dan kehidupan sosial kemasyarakatan.
Di situlah makna khidmat menemukan bentuknya.
HIMASAL Brebes dalam tarikan nafas khidmat masyayekh Lirboyo bukan sekadar organisasi alumni. Ia adalah bagian dari ikhtiar menjaga mata rantai sanad keilmuan, merawat ukhuwah, dan meneruskan nilai-nilai pesantren agar tetap hidup di tengah masyarakat.
Sebab santri boleh meninggalkan pesantren, tetapi pesantren tidak boleh meninggalkan jiwa santrinya. Inilah yang lazim dengan jargon, ” dadi santri salawase”. ( menjadi santri selamanya).
Dan selama nilai-nilai masyayekh tetap menjadi napas perjuangan, selama itu pula tradisi pesantren akan terus hidup—mengalir dari generasi ke generasi, dari Lirboyo untuk Brebes, dari pesantren untuk umat.











