Generasi Merdeka Hadir di Tengah Warga Cilegon,Erupsi Anak Gunung Krakatau Bagikan Masker dan Nasi Kotak, Hadir Jumat Berkah Musancab PKB Brebes: Meneguhkan Kemenangan Politik Tahun 2029 HIMASAL Brebes dalam Tarikan Nafas Khidmat Masyayekh Lirboyo Mengenal Prof Dr Suwendi Sang Pejuang Pendidikan Keagamaan di Nusantara. Buka Mubes PK NTT Batam, Amsakar Tekankan Keberagaman Harus Jadi Kekuatan Komisaris PT Pertamina Arun Gas (PAG) Dukung PKRM PRIMA DMI Langsa 2026. Wanda Assyura: remaja masjid harus diberi ruang untuk berkreasi.

Opini

Mengenal Prof Dr Suwendi Sang Pejuang Pendidikan Keagamaan di Nusantara.

badge-check


					Mengenal Prof Dr Suwendi Sang Pejuang Pendidikan Keagamaan di Nusantara. Perbesar

Oleh : Akhmad Sururi

Sosok pakar pendidikan keagamaan Islam yang tidak pernah lelah memperjuangkan pendidikan Islam, secara khusus Pondok Pesantren dan Madrasah Diniyah Takmiliyah adalah Prof Dr Suwendi. Sebagai pejuang pendidikan Beliau memiliki kemampuan akademik yang bisa dipertanggungjawabkan dihadapkan publik melalui karya karya ilmiahb (buku dan artikel ilmiah)

Pertemuan saya dengan Beliau di Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah ( FKDT). Saat itu Beliau menjadi salah satu pembina yang secara aktif memberikan kontribusi pemikiran untuk masa depan Madrasah Diniyah Takmiliyah ( MDT) di Indonesia. Melalui pemikiran Beliau, MDT terus melaju dengan segala tantangan dan peluang muncul searah dengan kebijakan pemerintah.

Sebagai alumni Pesantren Beliau sangat fasih berbicara tentang Pesantren dan Madrasah Diniyah. Dua institusi pendidikan ini bagi Beliau menjadi dunianya yang bisa memaparkan dari A sampai dengan Z, ibaratnya laksana kamus berjalan. Seluk beluk kehidupan Pesantren dan MDT ditangan Beliau bisa ditulis dengan karya ilmiah yang bisa manusia referensi para pemerhati pendidikan.

Sosok yang ditempa dalam dunia Pesantren dalam peta pemikirannya tidak pernah meninggalkan basis ulama Pesantren. Beliau mampu menggabungkan dunia Pesantren dan akademik dalam satu nafas kebangsaan menuju Indonesia yang bermartabat. Inilah yang mendasari pemikiran Beliau melalui kontribusinya dalam menyusun usaha peringatan hari santri nasional.

Jauh hari sebelum disahkan UU Pesantren, saya sempat mengikuti paparan Beliau tentang cluster pendidikan keagamaan dihadapan DPR RI. Secara detail paparan jenis pendidikan di bawah Kemenag RI disampaikan dengan sistematis disertai kebijakan anggaran. Tentu hal ini menjadi mukadimah sebelum terbitnya regulasi yang berpihak kepada Pesantren.

Perjuangan Beliau untuk pendidikan keagamaan tidak kenal lelah. Saat perjalanan bersama Beliau dari Cirebon ke Brebes, banyak cerita tentang bagaimana ikhtiar dan upaya advokasi pendidikan keagamaan dihadapan pejabat negara pengambil kebijakan. Dukungan pemikiran akademiknya menjadi modal utama saat berdiskusi dengan para pejabat negara.

Saat Pesantren diterpa kasus bullying dan kekerasan seksual, Beliau hadir dalam berbagai kesempatan untuk menjelaskan dengan seimbang dengan pendekatan literasi dari kutub turos. Sehingga bisa memetakan batas ta’dim dan asusila yang bersentuhan dengan norma hukum pidana.

Penjelasan untuk menetralisir kasus Pesantren tersebut tidak terbatas pada ruang halaqoh, diskusi dan seminar. Beberapa media online mengangkat tulisan Beliau yang sangat mudah difahami. Narasi ilmiahnya mencerminkan seorang akademisi yang bukan hanya menguasai kajian teori, akan tetap kajian fakta dan lapangan juga menguasai dengan baik.

Sebagai alumni Pesantren, Beliau menguasai khazanah pemikiran Pesantren yang bersentuhan dengan dunia pendidikan. Hal tersebut dibuktikan dengan salah satu karya Beliau yang mengeksplorasi pemikiran KH Hasyim Asy’ari ( Pendiri NU dan Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang) tentang pendidikan.

Gagasan dan pemikiran yang progesip tentang pendidikan selalu muncul saat dimana Beliau mendapatkan amanah tentang pendidikan. Termasuk saat di Subdit MDT, beliau merancang gagasan ekspansi MDT di lembaga pendidikan formal dengan pola terintegrasi dan pendidikan Diniyah di lingkungan lembaga Pemasyarakatan. Meski gagasan tersebut saat itu masih tahapan draft akan tetapi menjadi inspirasi para pengelolaan MDT di daerah untuk menjalin kerjasama dengan dinas pendidikan setempat.

Saat kebijakan FDS ( Full Day School) di gulirkan olen pemerintah, Beliau dengan pemikiran moderatnya mencari jalan tengah demi menyelamatkan Madrasah Diniyah Takmiliyah. Kritik atas kebijakan tersebut Beliau sampaikan dengan dukungan angka MDT dan perannya terhadap masa depan anak bangsa. Karena bagaimanapun juga eksistensi pembelajaran MDT sangat dibutuhkan dalam rangka mewujudkan generasi yang berakhlak sekaligus sebagai lembaga transmisi ilmu agama Islan. Lewat beberapa tulisannya Beliau memberikan beberapa solusi terbaik untuk keberlangsungan MDT di negeri Indonesia tercinta dengan menjalin sinergitas beberapa kementerian.

Saya mengucapkan selamat dan sukses atas pengukuhan Bapak Prof Dr Suwendi sebagai guru besar di UIN Jakarta.

Baca Lainnya

Musancab PKB Brebes: Meneguhkan Kemenangan Politik Tahun 2029

12 September 2026 - 10:06 WIB

HIMASAL Brebes dalam Tarikan Nafas Khidmat Masyayekh Lirboyo

12 September 2026 - 10:04 WIB

MENGHITUNG ARTI, BUKAN KONEKSI: KETULUSAN YANG TERUJI DI KALA LAPANG DAN SEMPIT

11 September 2026 - 08:05 WIB

Ketika Agama Menjadi Cermin Kekuasaan: “Membaca Kontroversi Islam Ala Prabowo”

9 September 2026 - 12:55 WIB

HAORNAS 2026: DARI SEREMONI MENUJU SISTEM PEMBINAAN ATLET

9 September 2026 - 11:58 WIB

Trending di Opini