BP Batam Perkuat Promosi KEK Pariwisata Kesehatan Internasional Batam di Medical Fair Asia 2026 Sekolah Owner: Strategi Pengusaha Muda Tatap Peluang Ekonomi Global Mulai 7 September 2026, Bank Pekreditan Rakyat Bestari Bertransformasi Menjadi PT. BPR Bestari (Perseroda) Gubernur Ansar Dorong Percepatan Program Cek Kesehatan Gratis Kemenkes Dorong Percepatan Penemuan Kasus TBC di Kepulauan Riau, 10 Unit X-Ray Disiapkan untuk Perkuat Deteksi Dini Wamenkes II RI Tinjau Posyandu di Tanjungpinang, Sosialisasikan Program CKG bagi Lansia

Opini

MENGHITUNG ARTI, BUKAN KONEKSI: KETULUSAN YANG TERUJI DI KALA LAPANG DAN SEMPIT

badge-check


					MENGHITUNG ARTI, BUKAN KONEKSI: KETULUSAN YANG TERUJI DI KALA LAPANG DAN SEMPIT Perbesar

Oleh: Drs. H. Buralimar, M. Si.

Kita hidup di zaman ketika angka-angka dengan lancang ikut menentukan harga diri manusia. Jumlah pengikut dianggap sebagai prestasi, ribuan kontak di gawai dipamerkan sebagai jaringan, dan banyaknya orang yang menyapa seolah menjadi ukuran betapa pentingnya diri kita. Kita pun sibuk mengoleksi nama, jabatan, dan koneksi, sampai lupa bertanya kepada diri sendiri: dari sekian banyak orang yang mengenal nama kita, berapa banyak yang benar-benar merasakan manfaat dari kehadiran kita? Sebab dikenal banyak orang belum tentu berarti dibutuhkan dengan ketulusan.

Hidup sesungguhnya bukan tentang seberapa panjang daftar orang yang kita kenal, melainkan seberapa panjang jejak kebaikan yang kita tinggalkan. Bukan tentang berapa banyak tangan yang bersalaman dengan kita ketika berada di atas, tetapi berapa banyak tangan yang tetap terulur ketika kita berada di bawah. Nabi Muhammad SAW mengingatkan, “Khairunnaas anfa’uhum linnaas” — sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. Sayangnya, menjadi terlihat bermanfaat kadang lebih kita sukai daripada benar-benar memberi manfaat. Kita gemar panggung, tetapi sering lupa bahwa kehidupan orang lain tidak membutuhkan tepuk tangan; mereka membutuhkan ketulusan.

Ketika hidup sedang lapang, pintu-pintu terasa terbuka dengan sendirinya. Telepon berdering, undangan berdatangan, sapaan menjadi begitu ramah, dan orang-orang tiba-tiba merasa memiliki hubungan istimewa dengan kita. Ada yang mendadak menjadi saudara, ada yang tiba-tiba menjadi sahabat lama, bahkan ada yang seolah telah mengenal kita sejak zaman nenek moyang. Padahal, bisa jadi yang mereka kenal bukan diri kita, melainkan jabatan, kekuasaan, uang, atau manfaat yang melekat pada diri kita. Dunia memang pandai membuat kepentingan terdengar seperti persaudaraan.

Namun ketika keadaan berubah, ketika jabatan tanggal, usaha terpuruk, kekayaan menyusut, dan pengaruh perlahan menghilang, suasana pun ikut berubah. Telepon yang dahulu sibuk mendadak menjadi benda mati. Pesan yang dulu dibalas dalam hitungan detik kini dibiarkan menggantung. Orang-orang yang dahulu berebut mendekat perlahan menemukan alasan untuk menjauh. Anehnya, mereka tidak merasa pergi; mereka hanya merasa sedang “sibuk”. Barangkali memang begitu cara sebagian manusia menjaga hubungan: dekat ketika ada kepentingan, jauh ketika tidak ada lagi yang bisa dimanfaatkan.

Tetapi jangan terlalu cepat merasa kehilangan. Sebab tidak semua yang pergi adalah kerugian. Ada orang-orang yang memang hadir hanya untuk menemani keberhasilan kita, bukan untuk menemani kehidupan kita. Kejatuhan sering kali menjadi alat penyaring yang jauh lebih jujur daripada keberhasilan. Ketika kita berada di puncak, semua orang tampak setia. Ketika kita jatuh, barulah terlihat siapa yang benar-benar peduli dan siapa yang selama ini hanya berdiri di bawah bayang-bayang keuntungan. Badai tidak selalu datang untuk menghancurkan; kadang ia datang untuk merontokkan daun-daun palsu agar kita bisa melihat mana yang benar-benar akar.

Karena itu, jangan ukur persahabatan dari banyaknya orang yang hadir ketika kita berjaya. Ukurlah dari siapa yang masih bersedia duduk bersama ketika kita tidak punya apa-apa untuk dibanggakan. Jangan ukur kepedulian dari panjangnya ucapan selamat, tetapi dari kesediaan hadir ketika kita sedang membutuhkan. Sebab orang yang tulus tidak selalu banyak bicara. Ia mungkin tidak punya jabatan untuk ditawarkan, tidak punya uang untuk dipamerkan, bahkan tidak punya pengaruh untuk dibanggakan. Tetapi ketika dunia menjauh, ia tetap ada. Dan sering kali, satu manusia seperti itu jauh lebih berharga daripada seribu koneksi yang hanya ramai di permukaan.

Ironisnya, kita sering terlalu sibuk mengejar orang-orang yang sebenarnya tidak pernah sungguh-sungguh membutuhkan kita. Kita berusaha mempertahankan hubungan yang sejak awal dibangun di atas kepentingan, seolah kehilangan mereka adalah akhir dari dunia. Padahal mungkin justru merekalah yang selama ini membuat kita lupa membedakan antara teman dan penonton, antara sahabat dan pengikut, antara orang yang mencintai kita dan orang yang mencintai apa yang melekat pada diri kita. Jangan sampai kita menghabiskan hidup mengetuk pintu orang yang tidak peduli, sementara ada pintu yang selalu terbuka tetapi jarang kita datangi.

Maka biarkan sebagian orang pergi bersama kepentingannya. Tidak perlu dikejar, apalagi diratapi. Waktu akan menjelaskan banyak hal yang tidak mampu dijelaskan oleh kata-kata. Rangkul mereka yang tetap bertahan ketika hidup sedang sempit, ketika nama kita tidak lagi disebut, ketika undangan mulai berkurang, dan ketika tidak ada keuntungan yang bisa mereka peroleh dari kedekatan itu. Mereka adalah orang-orang yang mengajarkan bahwa ketulusan tidak membutuhkan panggung, tidak membutuhkan kamera, dan tidak membutuhkan unggahan agar terlihat nyata.

Pada akhirnya, yang membuat seseorang berarti bukanlah berapa banyak manusia yang mengenalnya, melainkan berapa banyak kehidupan yang menjadi lebih baik karena pernah bersentuhan dengannya. Kita boleh memiliki ribuan koneksi, tetapi jangan sampai kehilangan hubungan yang manusiawi. Kita boleh dikenal di banyak tempat, tetapi jangan sampai asing di hati orang-orang terdekat. Sebab terkenal hanya membuat nama kita disebut, sedangkan bermakna membuat kebaikan kita tetap hidup bahkan setelah nama kita tidak lagi disebut.

Kelak, ketika usia membawa kita semakin dekat kepada penghujung perjalanan, semua yang dahulu kita banggakan akan menemukan tempatnya sendiri. Jabatan akan berganti, kekayaan akan berpindah, popularitas akan surut, dan daftar kontak akan terus bertambah tanpa pernah mampu menjamin satu pun ketulusan. Yang tersisa hanyalah jejak: siapa yang pernah kita bantu, siapa yang pernah kita kuatkan, siapa yang pernah kita bahagiakan, dan siapa yang merasa kehilangan ketika kita tidak lagi berada di sisinya. Pada saat itu, kita akan sadar bahwa hidup bukan tentang berapa banyak orang yang mengenal kita, tetapi tentang berapa banyak hati yang mengenang kita dengan kebaikan.

Maka jangan habiskan hidup untuk menghitung koneksi; hitunglah arti. Jadilah manusia yang tetap hangat ketika lapang dan tetap bermanfaat ketika sempit. Jangan hanya menjadi orang yang dicari karena memiliki sesuatu, tetapi jadilah seseorang yang dirindukan karena ketulusannya. Sebab pada akhirnya, keramaian akan bubar, panggung akan gelap, tepuk tangan akan berhenti, dan satu per satu manusia akan pulang ke jalannya masing-masing. Yang benar-benar tinggal bukanlah banyaknya orang yang pernah berada di sekitar kita, melainkan kebaikan yang pernah kita tinggalkan di dalam hati mereka.

Batam, 11-9-2026
Penulis adalah
1. Ketua BWI Kota Batam
2. Wakil Ketua I ASPPI Kepri
3. Mantan Kadispar Kepri

Baca Lainnya

Ketika Agama Menjadi Cermin Kekuasaan: “Membaca Kontroversi Islam Ala Prabowo”

9 September 2026 - 12:55 WIB

HAORNAS 2026: DARI SEREMONI MENUJU SISTEM PEMBINAAN ATLET

9 September 2026 - 11:58 WIB

Musda KAHMI Batam: Haruskah Selalu Amsakar?

8 September 2026 - 15:06 WIB

KETEGASAN YANG TIDAK MEMBUAT LUKA

8 September 2026 - 13:19 WIB

Menenun Nalar di Tepi Arus Pragmatisme

6 September 2026 - 17:32 WIB

Trending di Opini