10 Tahun Diperjuangkan, Gas Natuna Kini Resmi Kembali ke Pangkuan Ibu Pertiwi Operasi Patuh 2026, Polri Ajak Masyarakat Jadikan Keselamatan sebagai Kebiasaan BP Batam Matangkan Pekerjaan Teknis Jalan Gajah Mada, Pembukaan jalan Ditargetkan Sesuai Jadwal Hj.Eva Susanti Apresiasi Posbakum YBH-SSB, Dorong Sinergi Bantuan Hukum bagi Masyarakat Miskin di Palembang Komitmen Kapolda Jawa Timur menjaga Pemuda: “Pemuda Berani Melawan Narkoba, Menjaga Persatuan dan Masa Depan Jawa Timur” Daarurrahmah Cup V Resmi Dibuka, Jadi Ajang Silaturahmi dan Unjuk Bakat Pelajar SD/MI se-Kabupaten Bekasi

News

“Rayap Besi” Kini Masuk Hinterland, Pagar Jembatan Pulau Mongkol Lenyap Tanpa Jejak dalam Semalam

badge-check


					“Rayap Besi” Kini Masuk Hinterland, Pagar Jembatan Pulau Mongkol Lenyap Tanpa Jejak dalam Semalam Perbesar

LantakNews.Com. Batam-Fenomena “rayap besi” yang selama ini identik dengan kawasan perkotaan Batam kini menunjukkan pola baru yang lebih mengkhawatirkan. Aksi pencurian material logam itu mulai merambah wilayah hinterland, menyasar fasilitas publik hingga ke pulau-pulau yang selama ini relatif tenang.

Peristiwa terbaru terjadi di Pulau Mongkol, Kelurahan Pemping, Kecamatan Belakang Padang, Kota Batam, Rabu (1/4/2026). Belasan batang pipa besi yang berfungsi sebagai pagar pengaman jembatan dilaporkan hilang diduga dicuri oleh pihak tak bertanggung jawab.

Kejadian ini sontak mengejutkan warga. Pasalnya, infrastruktur tersebut bukan hanya bernilai material, tetapi juga memiliki fungsi vital sebagai pengaman bagi masyarakat yang melintas setiap hari.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, pipa besi tersebut masih terlihat utuh pada sore hari sebelum kejadian. Namun, saat warga kembali beraktivitas keesokan paginya, seluruh bagian pagar jembatan itu sudah hilang tanpa jejak.

“Waktu sore masih ada, tidak ada tanda-tanda apa pun. Tapi pagi harinya sudah tidak ada sama sekali. Kami menduga kuat ini terjadi malam hari saat situasi sepi,” ujar Azrul Umar, warga setempat, Kamis (2/4/2026).

Ia menilai, pelaku diduga sudah memantau kondisi lokasi sebelumnya dan memanfaatkan waktu ketika warga terlelap untuk melancarkan aksinya. Selain itu, proses pencabutan pipa besi dalam jumlah banyak juga mengindikasikan adanya perencanaan yang matang.

“Ini bukan pekerjaan satu orang. Kemungkinan ada beberapa pelaku dan sudah direncanakan. Karena untuk melepas belasan batang besi itu butuh waktu dan tenaga,” jelasnya.

Azrul menegaskan bahwa hilangnya pagar jembatan tersebut berpotensi membahayakan keselamatan warga, terutama anak-anak dan pengguna jalan pada malam hari.

“Kalau tidak segera diperbaiki, ini sangat berisiko. Jembatan tanpa pengaman bisa membahayakan siapa saja yang melintas,” tambahnya.

Kasus ini telah dilaporkan kepada pihak kepolisian, dalam hal ini Unit Reskrim Polsek Belakang Padang, dan kini tengah dalam proses penyelidikan lebih lanjut.

Di sisi lain, masyarakat setempat tidak tinggal diam. Aparat kelurahan, perangkat RT/RW, LPM, tokoh pemuda, hingga warga secara swadaya turut bergerak mengumpulkan informasi guna mengungkap pelaku di balik aksi tersebut.

Azrul juga menyampaikan imbauan kepada masyarakat luas, khususnya yang berada di wilayah Batam dan pulau-pulau sekitarnya, untuk ikut membantu memberikan informasi apabila mengetahui keberadaan pelaku maupun barang hasil curian.

“Kami sangat berharap dukungan semua pihak. Jika ada informasi sekecil apa pun, segera sampaikan kepada aparat atau perangkat setempat. Ini demi keamanan bersama,” tegasnya.

Sementara itu, Nurdin, warga lainnya, menilai maraknya fenomena “rayap besi” di wilayah hinterland tidak bisa dilepaskan dari persoalan sosial yang berkembang di tengah masyarakat.

Menurutnya, meningkatnya kasus penyalahgunaan narkoba serta kecanduan judi online menjadi salah satu faktor yang diduga memicu tindak kriminalitas, termasuk pencurian material besi.

“Kondisi ini harus kita lihat secara menyeluruh. Ada tekanan ekonomi, ada juga pengaruh narkoba dan judi online yang semakin marak. Ini bisa mendorong orang melakukan tindakan nekat,” ujarnya.

Ia menekankan pentingnya peran semua pihak, baik pemerintah, aparat penegak hukum, maupun masyarakat dalam mengatasi persoalan ini secara komprehensif.

“Penegakan hukum memang penting, tapi pencegahan juga harus diperkuat. Edukasi dan pengawasan di lingkungan masyarakat tidak boleh diabaikan,” tambahnya.

Fenomena “rayap besi” sendiri merupakan istilah yang berkembang di tengah masyarakat untuk menggambarkan aksi pencurian logam, terutama besi, yang dilakukan secara berulang dan menyasar fasilitas umum. Dalam beberapa kasus, pelaku bahkan tidak segan merusak infrastruktur demi mengambil material yang memiliki nilai jual di pasar barang bekas.

Masuknya fenomena ini ke wilayah hinterland menjadi sinyal serius bahwa tingkat kerawanan tidak lagi terbatas di kawasan perkotaan.

Warga berharap aparat dapat bertindak cepat dan tegas dalam mengungkap kasus ini, sekaligus memperketat pengawasan terhadap fasilitas publik yang rentan menjadi sasaran pencurian.

Di tengah keterbatasan wilayah kepulauan, solidaritas masyarakat menjadi benteng utama dalam menjaga keamanan lingkungan. Harapan pun menguat, agar pelaku segera terungkap dan kejadian serupa tidak kembali terulang, sehingga rasa aman warga di pulau-pulau kecil tetap terjaga.

 

Baca Lainnya

BP Batam Matangkan Pekerjaan Teknis Jalan Gajah Mada, Pembukaan jalan Ditargetkan Sesuai Jadwal

28 Oktober 2026 - 16:38 WIB

Amsakar Luncurkan DUKSTAR, Pelayanan Kependudukan Lebih Dekat ke Warga

28 Oktober 2026 - 04:27 WIB

Peringati Sumpah Pemuda 2026, Dorong Generasi Muda Berkarakter dan Peduli

28 Oktober 2026 - 04:17 WIB

Bertepatan dengan Hari Bakti ke-55, Kepala BP Batam Raih Penghargaan Inovasi Membangun Negeri 2026

28 Oktober 2026 - 03:26 WIB

Pesantren An Ni’mah Sagulung Terbakar, Santri Terlihat Panik dan Berhamburan

27 Oktober 2026 - 14:52 WIB

Trending di Batam