Tuan Rumah Tanjungpinang Raih Emas, Perak dan Perunggu pada Cabor Panjat Tebing Porprov VI Kepri Dirjen Otda Siap Fasilitasi Usulan Pembangunan Embung ke Kementerian PU Dandim 0315/Tanjungpinang Silaturahmi, Wali Kota Lis Harapkan Sinergi Terus Terjalin Wali Kota Lis: Kemitraan REI dan Pemda Buka Peluang Investasi di Tanjungpinang Pemko Siapkan Senggarang dan Kampung Bugis Jadi Pusat Ekonomi Baru Mulai 2027 Sekdaprov Misni Hadiri MUSDA IV LVRI dan MUSDA PD PIVERI Kepri

Batam

Di Tengah Perebutan Bisnis Air Batam, Warga Pulau Jaloh Berebut Setetes Air Bersih

badge-check


					Di Tengah Perebutan Bisnis Air Batam, Warga Pulau Jaloh Berebut Setetes Air Bersih Perbesar

Lantaknews.com. Batam-Di saat polemik pengelolaan air bersih di Kota Batam terus bergulir dan proyek-proyek penyediaan air bernilai miliaran hingga triliunan rupiah terus dibangun, warga Pulau Jaloh, Kelurahan Pantai Gelam, Kecamatan Bulang, justru masih berjuang untuk mendapatkan kebutuhan paling mendasar, yakni air bersih.

Ironi itu terlihat nyata di pulau hinterland tersebut. Setiap hari, warga harus mengantre di sebuah sumur buatan yang debit airnya terus menyusut akibat musim kering.

Bahkan, untuk memperoleh beberapa jeriken air, mereka harus menunggu berjam-jam hingga mata air perlahan muncul dari dasar sumur.

Kondisi memprihatinkan itu diungkapkan Icam, seorang pendatang yang kerap beraktivitas di Pulau Jaloh.

Selama berada di pulau tersebut, ia menyaksikan langsung bagaimana masyarakat harus berjibaku memenuhi kebutuhan air untuk mandi, memasak, hingga keperluan rumah tangga.

“Saya melihat sendiri warga sangat kesulitan mendapatkan air bersih. Mereka harus mengantre di sumur yang sekarang sudah mulai mengering,” kata Icam, Minggu (2/8/2026).

Ia bahkan memperlihatkan rekaman video yang menunjukkan dasar sumur sudah hampir kering. Air yang tersisa bercampur pasir sehingga warga tetap menggunakannya untuk mandi karena tidak memiliki pilihan lain.

Menurutnya, warga harus bersabar menunggu berjam-jam hingga rembesan air kembali memenuhi dasar sumur sebelum dapat ditimba sedikit demi sedikit.

Tak hanya sumur warga yang mengalami kekeringan. Waduk yang dibangun pemerintah di Pulau Jaloh juga disebut sudah mengering sehingga tidak lagi mampu menyuplai kebutuhan air masyarakat.

“Di sini warga kesulitan air bersih. Setidaknya pemerintah dapat membantu mengatasi permasalahan air bersih ini,” ujar Icam.

Ia mengaku selama berada di Pulau Jaloh bahkan hanya mandi sekali dalam sehari sebagai bentuk penghematan air, mengikuti kondisi yang dialami masyarakat setempat.

Mayoritas penduduk Pulau Jaloh menggantungkan hidup sebagai nelayan. Namun, di balik kekayaan laut yang menjadi sumber penghidupan mereka, akses terhadap air bersih justru menjadi persoalan yang belum terselesaikan.

Situasi ini memunculkan ironi besar. Di satu sisi, Kota Batam dikenal memiliki sejumlah waduk besar, berbagai proyek pengembangan infrastruktur air, hingga pembangunan instalasi Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) yang menelan anggaran besar.

Di sisi lain, warga di pulau-pulau hinterland seperti Pulau Jaloh masih harus menunggu rembesan air dari dasar sumur untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Pulau Jaloh menjadi potret nyata ketimpangan pembangunan antara wilayah perkotaan dan pulau-pulau penyangga Kota Batam.

Ketika perdebatan mengenai pengelolaan air terus menjadi perhatian publik, masyarakat di pulau terluar justru masih bergulat dengan persoalan yang paling mendasar, memperoleh air untuk bertahan hidup.

Air bersih merupakan hak dasar setiap warga negara sekaligus layanan publik yang semestinya dipenuhi oleh pemerintah.

Karena itu, kondisi yang dialami masyarakat Pulau Jaloh tidak seharusnya dipandang sebagai persoalan musiman semata, melainkan menjadi alarm bagi Pemerintah Kota Batam dan pemangku kepentingan terkait untuk segera menghadirkan solusi yang berkelanjutan.

Pembangunan infrastruktur air tidak hanya diukur dari besarnya investasi atau megahnya proyek yang dibangun, tetapi sejauh mana manfaatnya benar-benar dirasakan oleh seluruh masyarakat, termasuk mereka yang tinggal di pulau-pulau hinterland yang selama ini kerap berada di pinggir perhatian.

Penulis : Nizamul Akhyar
Editor   : Redaksi

Baca Lainnya

Perkuat Pertahanan Negara, Pemko Batam Kirim 35 ASN Ikuti Seleksi Komcad

4 November 2026 - 18:56 WIB

Penataan Reklame Batam Mengacu Masterplan, Tujuh Permohonan Disetujui

4 November 2026 - 14:15 WIB

Surat Terbuka Untuk Bapak Presiden RI Prabowo Subianto

4 November 2026 - 11:15 WIB

Buka Ruang Kolaborasi, Amsakar Tekankan Peran Pers dalam Pembangunan Batam

4 November 2026 - 10:58 WIB

Tindak Lanjuti Laporan Warga, Amsakar Pastikan Tiga Anak di Bengkong Mendapat Akses Pendidikan

3 November 2026 - 15:24 WIB

Trending di Batam