Opini Akademik: “Jalan Hotel Vista Batam Terus Bergelombang: Jangan Hanya Memperbaiki Aspal, Selamatkan Fondasi Tanahnya!” Sumpah Pemuda dari Mata Perempuan: Merawat Indonesia Melalui Keberanian dan Kepedulian Wali Kota Lis: Semangat Sumpah Pemuda Harus Tercermin dalam Tindakan Nyata Sukses Prestasi dan Sukses Tuan Rumah, Wali Kota Lis Lepas Kontingen Porprov Kepri VI 2026 Amsakar Luncurkan DUKSTAR, Pelayanan Kependudukan Lebih Dekat ke Warga Peringati Sumpah Pemuda 2026, Dorong Generasi Muda Berkarakter dan Peduli

Dunia

Apakah Konflik Iran Vs AS-Israel Berpotensi Meledak Menjadi Perang Dunia Ketiga?

badge-check


					Apakah Konflik Iran Vs AS-Israel Berpotensi Meledak Menjadi Perang Dunia Ketiga? Perbesar

LantakNews.Com. London – Lebih dari sebulan setelah perang antara AS-Israel dan Iran pecah, muncul pertanyaan besar di kalangan pengamat global apakah konflik Timur Tengah saat ini dapat berkembang menjadi jauh lebih besar bahkan berpotensi menuju Perang Dunia Ketiga.

Perang yang berkecamuk ini tidak hanya mempengaruhi Iran tetapi juga telah melibatkan belasan negara lain di kawasan Timur Tengah seperti Uni Emirat Arab, Irak, Bahrain, Kuwait, Arab Saudi, Oman, Azerbaijan, Siprus, Suriah, Qatar, Lebanon, dan Tepi Barat yang diduduki Israel.

Banyak kalangan tengah bertanya-tanya apakah skala konflik yang saat ini masih bersifat regional ini dapat berubah menjadi perang dengan skala dunia yang lebih masif.

Margaret MacMillan, profesor emeritus sejarah internasional di Universitas Oxford, Inggris, mengingatkan bahwa sejarah menunjukkan perang besar seringkali tidak direncanakan dengan sangat hati-hati melainkan dipicu oleh kecelakaan dan kesalahan penilaian terhadap lawan.

“Bayangkan saja situasinya seperti perkelahian di halaman sekolah,” ujar MacMillan menggambarkan betapa mudahnya eskalasi terjadi.

Joe Maiolo, profesor sejarah internasional di King’s College London, mendefinisikan perang dunia sebagai perang habis-habisan yang melibatkan semua kekuatan besar dunia secara simultan.

Dalam Perang Dunia Pertama, kekuatan itu adalah kekaisaran Eropa, sementara dalam Perang Dunia Kedua kekuatan mencakup Amerika Serikat, Jepang, dan China.

Banyak kalangan menilai ketegangan di Timur Tengah saat ini masih bersifat regional, namun pertanyaannya adalah adakah kondisi yang bisa memicu eskalasi yang lebih luas.

MacMillan menilai bahwa negara yang kemungkinan besar akan meningkatkan eskalasi adalah Iran atau sekutu Iran seperti Houthi di Yaman.

Potensi tindakan Iran seperti menargetkan jalur pelayaran atau menutup Selat Hormuz dapat memiliki konsekuensi global dengan mengganggu pasokan energi dan melibatkan kekuatan-kekuatan besar.

Keterlibatan Amerika Serikat juga meningkatkan risiko meluasnya skala konflik, sementara China dan Rusia menurut Maiolo kemungkinan tidak akan terlibat langsung.

“Gagasan bahwa sesuatu terjadi di dunia dan China akan menyerang Taiwan hanyalah omong kosong belaka,” tegas Maiolo.

Maiolo meyakini bahwa China memiliki rencana diplomasi lain dengan Presiden AS Donald Trump dan akan membiarkan saingannya melakukan kesalahan strategis besar.

Namun MacMillan memperingatkan bahwa kesombongan dapat menjadi faktor bagi para pemimpin, termasuk Presiden Rusia Vladimir Putin yang menolak mengakui kegagalan di Ukraina.

Para pemimpin yang menolak mengakui kegagalan atau mundur dapat memperpanjang dan memperdalam konflik hingga menjadi perang yang menghancurkan.

Untuk menurunkan ketegangan, diplomasi sangat penting karena komunikasi antarnegara diperlukan untuk saling memahami dan mencegah kesalahpahaman.

Keberadaan senjata nuklir juga selalu menjadi pertimbangan dalam kebijakan de-eskalasi ketika kekuatan besar terlibat dalam konflik terbuka.

Maiolo berpendapat bahwa harus ada pengakuan di Tel Aviv, Washington, dan Teheran bahwa mereka telah mencapai batas kemampuan yang dapat dicapai karena perang berkepanjangan tidak akan membuahkan hasil yang diinginkan bagi semua pihak.

Hanya melalui mediasi kekuatan-kekuatan besar yang terlibat, perang ini dapat dibawa menuju gencatan senjata dan kemudian diubah menjadi pengaturan keamanan yang lebih langgeng.(*)

 

 

 

Baca Lainnya

AS Tambah Kekuatan Militer di Timur Tengah, Jumlah Kapal Perang Puluhan

22 Oktober 2026 - 23:05 WIB

Anggota Parlemen Malaysia Kalam Salan Sampaikan Pesan Berbahasa Jawa kepada Prabowo soal Kabut Asap Karhutla

22 Oktober 2026 - 15:50 WIB

Anies Baswedan Terima Freedom of the City of London, Setara Winston Churchill

17 Oktober 2026 - 02:24 WIB

Di Balik Gemerlap K-Pop: Mengapa Puluhan Ribu Warga Korea Selatan Memilih Berislam?

14 Oktober 2026 - 09:13 WIB

Serangan Houthi Hantam Bandara Riyadh, 12 Orang Tewas dan Ratusan Terluka

11 Oktober 2026 - 12:44 WIB

Trending di Dunia